Bela belain pulang demi dua hari yang katanya super penting. Meskipun banyak banget yang dikorbankan, wisday oktober, belajar buat uts rekstruk dan kayu, resepsi utama, It's fun. Cuma dua hari, hanya bermodalkan tas ransel berisi gadget, charger, dan kertas materi yang sama sekali ga disentuh.
Kebayang ga ketika lo nyaris ga mengenali rumah lo sendiri? Haha
Kebayang ga ketika lo nyaris ga mengenali kakak lo sendiri?
Happy wedding Teti sayang. You look so beautiful, that day :)
Ps : thanks berat to Yefri yang udah bela belain ngebut buat nganterin ke bandara hari Minggunya. Gue yang bandel sih, pesawat jam 6.20 dan baru berangkat dari rumah jam 5 lewat. Lucky, sampai di bandara dengan selamat tepat jam 6, haha \(^.^)/
Sepertinya ada distorsi antara pikiran, perasaan, dan segala hal yang saya lakukan. Hari ini saja, misalnya. Terus terang saya masih kesulitan mengurutkan kronologis semua hal yang harusnya saya kerjakan hari ini dan apa yang saya lakukan.
Jadilah hari ini saya lewati dengan berceloteh kesana kemari, gangguin egy, alwan, kak olen, bang yudha, dan fauzan. Untung error dan gangguannya belum sampai ke bang zachlul, berarti tingkat keparahannya masih over consolidated belum separah yang kemarin-kemarin.
Kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi bahkan lebih parah. Apa kabar besok?
Maaf atas segala gangguan, kerandoman, dan jam bodoh yang datang terlalu cepat teman-teman.
Ada sesuatu disini, mengganjal dan tidak terdefenisikan.
Setelah minggu uts itu berakhir, 7 /7.Harusnya udah tenang ya? Bagaimana bisa? Tugas bahkan lebih horor daripada ujian.
Ruangan ini sangat besar. Cahaya matahari pagi yang masuk
dari jendela kaca di sebelah kiri membuat semua terang benderang dan terasa
hangat. Semua terlihat familiar. Ruangan
ini. Ruangan ini. Sofa hijaunya yang
besar dan kursi busa berlengan dengan motif hitam putih. Rumah, tempat terukir
semua kenangan.
Papa duduk di sana sambil membaca koran. Cara duduknya yang
khas membuat aku tersenyum, tersadar betapa aku merindukannya. Sudah berapa
lama aku tidak melihatnya? Ya, kebiasaannya setiap pagi, dengan kacamata
berbingkai hitam itu bertengger di hidungnya.
Menyadari aku berdiri menatapnya, papa mengalihkan fokusnya
dari koran itu dan tersenyum menatapku. Nafasku tercekat. Tersadar. Itu Papa?
Benar-benar Papa? Aku hanya terpaku di tempat, tidak bisa melakukan apapun,
tidak bisa berkata-kata. Aku hanya memandangnya tanpa berkedip, takut semuanya
hanya mimpi dan akan menghilang seketika saat aku membuka mata.
Dan ternyata memang hanya mimpi. Semua menghilang, berganti
dengan kegelapan saat aku membuka mata. Jam 3 pagi. Yang tersisa hanyalah wajah
yang basah oleh air mata dan kehampaan yang tiba-tiba menyelimutiku dalam diam.
Salah satu lagu yang dimuat dalam album Dewi Lestasri - Rectroverso (2008), album pelengkap dari novel Rectoverso. Lagu yang juga dipopulerkan Marcel ini merupakan salah satu Soundtrack di film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama, Rectroverso.
"Anak-anak jaman sekarang bahasanya aneh-aneh saja. Jadian lah. Nembak lah. Anak orang kok ditembak. Nembak itu harus laki-laki atau perempuan juga boleh, Dek? Kamu dulu waktu mau jadian, yang nembak kamu atau pacar kamu?"
-Kuliah Pengganti MK tadi sore, ada-ada saja bahasan si bapak -_____-"