Friday, March 15, 2013

MIMPI


Ruangan ini sangat besar. Cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela kaca di sebelah kiri membuat semua terang benderang dan terasa hangat. Semua terlihat  familiar. Ruangan ini.  Ruangan ini. Sofa hijaunya yang besar dan kursi busa berlengan dengan motif hitam putih. Rumah, tempat terukir semua kenangan.

Papa duduk di sana sambil membaca koran. Cara duduknya yang khas membuat aku tersenyum, tersadar betapa aku merindukannya. Sudah berapa lama aku tidak melihatnya? Ya, kebiasaannya setiap pagi, dengan kacamata berbingkai hitam itu bertengger di hidungnya.

Menyadari aku berdiri menatapnya, papa mengalihkan fokusnya dari koran itu dan tersenyum menatapku. Nafasku tercekat. Tersadar. Itu Papa? Benar-benar Papa? Aku hanya terpaku di tempat, tidak bisa melakukan apapun, tidak bisa berkata-kata. Aku hanya memandangnya tanpa berkedip, takut semuanya hanya mimpi dan akan menghilang seketika saat aku membuka mata.

Dan ternyata memang hanya mimpi. Semua menghilang, berganti dengan kegelapan saat aku membuka mata. Jam 3 pagi. Yang tersisa hanyalah wajah yang basah oleh air mata dan kehampaan yang tiba-tiba menyelimutiku dalam diam.

No comments:

Post a Comment